Nama :Sri Asih
Npm :126211362
kelas : 5C
A. Penghilangan
Prefiks ber-
1.
Majalah Sagang
nomor 90 edisi Maret 2006, pada halaman 9 dengan judul Seniman dan Kontrol Kekuasaan.
Bentuk Tidak Baku
- Iwan tak pernah henti menyuarakan kejujuran lewat lagu-lagunya.
Analisis:
Dari kalimat di atas terjadi kesalahan karena kata tak bukan
bentuk baku, jadi bentuk bakunya adalah tidak. Selanjutnya telah terjadi
kesalahan karena telah menghilangkan prefiks ber- yang seharusnya ada
pada kata henti. Kata henti pada kalimat di atas merupakan kata
dasar yang menduduki predikat pada kalimat. Sesuai dengan kaidah bahasa
Indonesia yang baku, dalam kalimat tersebut harus dieksplisitkan prefiks ber-
yaitu menjadi berhenti.
Bentuk Baku
- Iwan tidak pernah berhenti menyuarakan kejujuran lewat lagu-lagunya.
2.
Majalah Sagang
halam 14 dengan judul Tujuh Pagi
Bentuk Tidak Baku
- Aku mencoba belajar dari situasi itu dengan pindah di ruang bawah.
Analisis:
Dari kalimat di atas telah terjadi kesalahan karena telah
menghilangkan prefiks ber- yang seharusnya ada pada kata pindah.
Kata pindah pada kalimat di atas merupakan kata dasar yang menduduki
predikat pada kalimat. Sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku, dalam kalimat
tersebut harus dieksplisitkan prefiks ber-
yaitu menjadi berpindah.
Bentuk Baku
- Aku mencoba belajar dari situasi itu dengan berpindah di ruang bawah.
B. Penyingkatan
Morf meN-
1.
Majalah Sagang pada
halaman 31 dengan judul Pengorbanan
Bentuk Tidak
Baku
- Eko minta bantuan kepada temannya yang punya kendaraan.
Analisis:
Dari kalimat di atas telah terjadi kesalahan karena telah
menghilangkan prefik meN- yang seharusnya ada pada kata minta.
Kata minta pada kalimat di atas merupakan kata dasar yang menduduki
predikat pada kalimat. Sesuai kaidah bahasa Indonesia yang baku, dalam kalimat
tersebut harus dieksplisitkan prefiks meN- yaitu menjadi meminta.
Sehingga kalimatnya menjadi:
Bentuk Baku
- Eko meminta bantuan kepada temannya yang punya kendaraan.
C. Penggunaan
Prefiks ke-
1.
Majalah Sagang
pada halaman 46 dengan judul Cermin Tinta
Bentuk Tidak
Baku
- Si Perintih ketawa, lalu setelah itu ia bersumpah mengatakan ia mempertaruhkan kepala sendiri dengan kesalahannya, jika memang ia bersalah.
Analisis:
Bentukan kata ketawa pada kalimat di atas merupakan bentuk
kata yang tidak baku. Kesalahan tersebut terjadi karena kekurang cermatan dalam
memilih prefiks yang tepat. Pada umumnya dikarenakan dipengaruhi oleh bahasa
daerah (Jawa atau Sunda). Bentukan yang baku dalam bahasa Indonesia adalah
menggunakan prefiks ter-, sehingga menjadi seperti diucapkan atau
dituliskan pada kalimat berikut ini:
Bentuk Baku
- Si Perintih tertawa, lalu setelah itu ia bersumpah mengatakan ia mempertaruhkan kepala sendiri dengan kesalahannya, jika memang ia bersalah.
DAFTAR PUSTAKA
Setyawati, Nanik. 21. Analisis
Kesalahan Berbahasa Indonesia: Teori
dan Praktik. Cetakan Kedua. Surakarta: Yuma Pustaka.




Tidak ada komentar:
Posting Komentar